Search This Blog

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Friday, October 13, 2017

Ibu Pendidik Generasi Islam

 
 
“… mendidik seorang wanita itu sama saja dengan mendidik sebuah generasi.” ~ Prakata Penerbit

Setinggi apapun pendidikan seorang anak, pengaruh besar pembentukan karakter anak didapat dari pendidikan keluarga. Maka, pentingnya ilmu orangtua, terutama ibu, dalam mendidik anak tidak bisa disepelekan. Ketika banyak masyarakat menganggap pendidikan tinggi seorang wanita akan sia-sia jika hanya berkutat dalam rumah tangga, maka stereotip yang tercipta tersebut amatlah salah. Pendidikan atau ilmu harus mutlak dimiliki oleh orangtua, terutama Ibu.

Ibu Pendidik Generasi Islam, memaparkan empat bab yang berkaitan, dari kehormatan posisi seorang perempuan dalam Islam, sampai dengan pentingnya dan bentuk kurikulum yang mendukung fitrah seorang perempuan. Bab awalan 'Wanita Dari Masa ke Masa' banyak berbicara tentang perkembangan sejarah tentang posisi perempuan dalam masyarakat, yang dilanjutkan dengan motivasi perempuan untuk menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. Meski begitu, dalam bahasannya penulis tidak mengingkari adanya kebutuhan peranan perempuan dalam masyarakat. .

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan .... "(QS: An Nisa 32) ~ h.91

Bahasa yang digunakan cukup bersahabat, dalam artian tidak kaku; disertakan juga pertimbangan-pertimbangan bagi perempuan tentang peranannya, bahkan jika perempuan tetap berstatus pekerja. Disertakan dalam bahasannya, tentang sejarah asal muasal perempuan memutuskan bekerja, saat era Revolusi Industri.

… setiap anak itu lahir dalam keadaan suci (fitrah). Lantas kedua orangtuanyalah yang memiliki andil besar terhadap anaknya dalam memeluk suatu agama. ~ h.102

Hak-hak anak dalam Islam menjadi bahasan utama pada bab kedua, Pandangan Islam Terhadap Anak. Salah satu dari sepuluh hak anak adalah Pengasuhan dan Nafkah, bagian inilah yang penting untuk ditunaikan setiap orangtua karena bisa jadi pengasuhan islami sejak dini menjadi akar karakter seorang anak. Dan, dalam bab ini juga pendidikan diurai menjadi tiga poin, pendidikan jasmani, pendidikan akal & akhlak, serta pendidikan rohani. .

Sebenarnya pembahasan dalam bab ini sudah banyak dipaparkan buku pendidikan islam lainnya, tapi sekadar untuk pengingat, buku ini cukup memotivasi dan memilih hadist/ayat AlQur'an yang pas dan mudah dipahami.

Berlanjut pada bab berikutnya. Sesuai judul babnya, Kurikulum Pendidikan untuk Mencetak Para Ibu Sholehah, isinya lebih bersifat teknis dan pentingnya pendidikan formal bagi para calon ibu. Materi bab ini tidak lagi bersifat personal, tetapi lembaga. Selain itu, diuraikan juga perkembangan dan pertumbuhan fisik serta akal anak pada usia 6-12 th dan 13-18 th

Penulis menganjurkan pendidikan keibuan penting untuk dimasukkan dalam kurikulum. Mempersiapkan perempuan untuk menjalani fitrahnya disamping tetap mendapatkan pengetahuan yang setara dengan laki-laki. Pentingnya materi tersebut dimasukkan dalam kurikulum dikarenakan peran besar seorang ibu dalam mencetak generasi.

Ibu Pendidik Generasi Islam | Khairiah Hussein, MA | Firdauss Press | Pertama, 2016 ; 272 hlm | 4/5 bintang

Readmore → Ibu Pendidik Generasi Islam

Saturday, October 29, 2016

Asyiknya Membantu Bunda

Penulis: Rien Dj dan Deasylawati P
Penyunting: Ayu Wulan
Penerbit: Lintang (Lini Penerbit Indiva)
ISBN: 9786021614877
Cetak: 2016
Tebal: 128 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp. 28.000 (Diskon di Toko Buku Online)


“Wah, Davin baik sekali mau bantu bundanya,” puji Bu Sani saat membeli minyak goreng. Sudah pasti Davin senang dengan pujian, padahal sebelumnya dia merasa bosan dengan liburannya yang hanya tinggal di rumah. Cerpen berjudul Asyiknya Membantu Bunda, menjadi pembuka dari kumpulan cerita yang bertemakan pendidikan akhlak untuk anak.

Asyiknya Membantu Ibu menjadi salah satu cerpen yang mengangkat tema akhlak yang harus ditanamkan pada diri seorang anak. Cerita pendek lainnya yang juga memiliki pesan akhlak, tersirat dalam Bintang untuk Najma; yang bercerita tentang kebingungan Najma menemukan kelebihan dalam dirinya, Sepatu-Sepatu Lola, kisah keteledoran Lola dengan benda miliknya; Asad yang Suka Tersesat; Asal Ambil; yang masing-masing menceritakan pada anak pengetahun tentang keuntungan dan kerugian dari akhlak yang dimiliki para tokohnya.

Bukti Dio, adalah salah satu cerpen favorit saya. Dio yang sering diejek temannya sebagai anak mama, merasa marah dan kesal. Dia memutuskan untuk berbohong pada teman-temannya dengan menciptakan rekayasa foto supaya tidak dikatakan sebagai penakut. Keinginan anak untuk diakui, terutama oleh teman-temannya, tergambar pada cerpen ini. Pesan yang mengajarkan sebuah kondisi yang tidak menyenangkan, tetap harus mereka sikapi dengan positif, tidak asal membuktikan diri, apalagi dengan keburukan, seperti berbohong.

Tak hanya pada diri sendiri, akhlak juga perlu dikaitkan pada masyarakat dan lingkungan. Pemahaman tentang nama yang baik dan buruk ketika hidup dalam masyarakat terkandung dalam Satu Nama yang Terlupa; Harapan Lok Baintan; Sebatang Pohon yang Melintang. Selain itu, kisah berjudul Dari Sebutir Nasi dan Bukan Pekerjaan Sepele adalah cerpen yang menarik. Sesuatu yang sepele seperti sebutir nasi atau menyebarkan informasi ternyata bisa memberikan dampak global. Meski tema terlihat berat, tapi gaya bercerita sederhana sudah pasti dapat dicerna oleh kepala anak-anak.

Dua puluh cerpen yang ditulis oleh Rien Dj dan Deasylawati ini, tidak hanya terbalut pada realitas kehidupan, tapi juga ada beberapa cerpen yang disampaikan dengan gaya fantasi, dongeng dan misteri. Clarita si Penjual Dongeng dan Kisah Boneka Bermata Biru menjadi cerita fantasi yang mengajarkan tentang tolong-menolong. Sedangkan, sisi misteri cukup banyak dimuat seperti pada cerpen Aksi Detektif Fian: Siapa Pencurinya?; Komplotan Jaket Merah; Misteri Lukisan Berdarah; Misteri Rambut Perak; Kutukan Empu Gandring, Pria Misterius dan Ransel Merah; Rumah Nomor Tiga Puluh.

Mengingat pentingnya penanaman akhlak terpuji pada anak sejak dini, menjadikan media cerita sebagai pilihan yang menarik. Cerita atau dongeng dapat dijadikan pengantar materi pemahanan pada anak karena caranya yang terkesan ringan tanpa paksaan.
Readmore → Asyiknya Membantu Bunda

Thursday, September 29, 2016

Bintang Keluarga

Judul: Bintang Keluarga
Judul Asli: The Bed and Breakfast Star
Penyunting: Poppy D. Chusfani
ISBN: 9789792247015
Cetak: Juni 2009
Tebal: 216 hlm
Bintang: 4/5
Harga: -


“Aku kembali menjulurkan lidah, karena muak diomeli semua orang sementara aku tidak bersalah.” (Elsa – h.68)

Elsa hidup bersama ibu dan ayah tiri, ditambah dua adik kecil yang sangat disayanginya. Kemarahan secara verbal seringkali datang kepadanya sebagai bentuk pelampiasan stres orang dewasa. Kehidupan Elsa berpindah-pindah, sampai dia menomori dan memberi penilaian tempat tidurnya setiap kali berganti tempat tinggal. Kepindahan untuk kesekiankalinya, mengantarkan Elsa dan keluarga ke Royal Hotel, tempat penampungan keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal, dan inilah tempat tidur ke tujuh Elsa.

“Tempat tidur itu berderak kemudian mengerang. Sama sekali tidak membuatku memantul. Tempat tidur itu hanya bergetar dan berhenti bergerak. Tempat tidur nomor tujuh sangat mengecewakan.” (h.45)

Ibu sangat tidak menyukai Royal Hotel karena kondisinya yang hampir tidak layak huni. “Aku benci melihat Mum sedih dan murung seperti itu. Aku berusaha melucu untuk membuatnya agak ceria” (h.80) Elsa selalu ingin membuat suasana ceria dengan leluconnya, sayangnya orang dewasa malah menganggapnya mengacau. Betapa menjengkelkan orang dewasa, tebak-tebakan Elsa hanya dianggap angin lalu.

“”Apa yang ada di kepalamu, berkeliaran, dan berteriak-teriak begitu?” dia (Mack) berteriak, bergegas melintasi ruangan. Aku bisa merasakan ini bukan saat yang tepat untuk berkata bahwa aku hanya meniru tingkah laku ayah tiriku.” (h. 73)

Mack, Ayah tiri Elsa tidak menyenangkan karena suka sekali mengeplak, tapi Elsa menyayangi kedua adik tirinya, terutama Pippa. “Mack si Keplak. Itu bukan gurauan. Dia memang suka mengeplak. Terutama mengeplakku. Seharusnya orang dilarang mengeplak anak-anak. Di banyak Negara, memukul merupakan perbuatan melanggar hukum dan jika orang memukul anak-anak, ia akan masuk bui. Aku berharap tinggal di salah satu Negara itu.” (h. 13)

Meski kesehariannya tidak menyenangkan bersama Mack, tapi Elsa anak yang enerjik dan riang. Saat kedatangannya di Royal Hotel, Elsa menemukan teman baru, Naomi, gadis yang suka duduk di atas wastafel sambil membaca buku. Selain itu, ada si Tampang-Lucu yang sebelumnya adalah musuh, tapi di kemudian hari menjadi teman karena tebakan dan lelucon Elsa.

“Sekolah itu agak bikin depresi juga. Mereka menyuruhku mengerjakan tes serta segala macam ujian dan aku tidak mampu mengerjakan sebagian besar di antaranya. Mereka menganggapku tolol. Aku menganggap diriku tolol. Aku harus mengikuti beberapa kelas ekstra untuk membantuku belajar baca-tulis dan berhitung. Anak-anak yang lain menertawaiku.” (h.111)

Salah satu yang menyenangkan ketika kepindahannya ke Royal Hotel adalah saking stresnya Mum, dia lupa menyekolahkan Elsa. Namun, suatu hari Elsa harus sekolah, hanya saja pengalaman bersekolah yang tidak menyenangkan membuatnya membolos bahkan pada hari pertama masuk kelas. “Tampang-Lucu dan hampir semua anak cowok membolos setiap hari. Aku memutuskan itulah yang akan kulakukan. Aku mungkin sadar aku cerdas, tapi sekolah ini mungkin bakal memberiku jenis tes yang salah. Aku bisa dengan mudah dikira bodoh lagi.” (h.113)

Elsa memiliki cita-cita menjadi komedian terkenal dan muncul di televisi. Keinginan yang membuatnya senang terus membaca koleksi bukunya yang berisi kumpulan lelucon. Keinginannya yang besar untuk muncul di layar televisi pernah muncul, tapi sayangnya media hanya menginginkan berita lain dan melupakannya yang berusaha mati-matian melontarkan leluconnya. Hingga suatu ketika terjadi kegemparan dan menyebabkan media berbondong-bondong mendatanginya.

Jacqueline Wilson selalu pandai mengolah cerita suram kehidupan anak (broken home, dkk) dengan mengambil sudut pandang anak. Dan itu menjadi semacam gambaran dari “suara” anak-anak tentang kesedihan yang dicerna dengan gaya eksentrik dan polos. Imajinasi juga bermain dalam kisah Elsa, terutama ketika dia mulai mengeluarkan lelucon atau ketika dia bercerita tentang keluarganya kepada teman-teman di sekolahnya untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan.

“Aku tidak panas. Aku merasa cool banget.
Aku tidak murung. Aku gembira gembira gembira.
Aku bukan kelinci. Aku Elsa dan aku mengaum seperti singa.
Hei, apa yang kaudapatkan jika mengawinsilangkan singa dengan burung nuri?
Aku juga tidak tahu, tapi jika dia berkata, “Ayo senyum”. Kau sebaiknya TERSENYUM.”
Readmore → Bintang Keluarga

Saturday, September 17, 2016

Smart Parenting with Love

Judul: Smart Parenting with Love
Penulis: Bunda Arifah
Penyunting: Krisna Somantri
Penerbit: Progressio Publishing (Lini Sygma Publishing)
ISBN: 9786029513691
Cetak: Pertama, Mei 2010
Tebal: xiv + 138 hlm
Bintang: 4/5
   

Pergaulan bebas, narkoba, tontonan tak mendidik, menjadi beberapa bagian dari banyaknya penyebab bejatnya perilaku dari para remaja di era yang katanya modern ini. Lebih menyedihkan lagi ketika media lebih menyukai mempertontonkan tingkah polah negatif remaja yang semakin tidak terkendali, daripada wacana yang memperlihatkan kepositifan demi mendidik/ menginspirasi  konsumen dari media.
 
Sebagai orangtua, terutama ibu, seringkali muncul ketakutan, apakah sudah memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik pada anak. Melihat keganasan pergaulan yang semakin merajalela, rasanya ingin sekali 'menyimpan' anak-anak di rumah. Tapi, sedikit mengambil kutipan dari buku Guru Kecilku #2, “Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya.” Mungkin inilah tantangannya memiliki putra/i di zaman sekarang, di mana kecanggihan pun bisa menjadi pendukung orangtua untuk lebih bersemangat mencari ilmu demi membentengi sang anak.
 
"Semua perubahan membutuhkan pembiasaan dan hati yang istiqomah. Karena dalam pelaksanaannya, berubah menjadi lebih baik banyak sekali hambatan dan tantangan." (h.  43)

Pembentukan karakter dan akhlak yang kuat untuk menyiapkan anak menghadapi kehidupan, perlu dilakukan orangtua. Caranya pun tak lagi sama seperti zaman dulu, yang mana tingkat kekritisan anak tidak setinggi dan seberani sekarang. Tidak cukup sekali dua kali untuk membimbing dan menanamkan pengertian kepada anak, butuh pembiasaan, kreativitas, dan kesabaran ektra dari orangtua.
 
Salah satu tips yang diberikan Bunda Arifah dalam buku ini, adalah berikan pemahaman pada anak ketika mereka dalam keadaan aman dan nyaman karena saat itu kondisi kerja otak anak-anak sedang maksimal. Melalui buku Smart Parenting with Love, Bunda Arifah mengajak pembaca untuk menjadi smart parent dengan pembahasan materi yang juga merujuk dari pengalamannya mendidik keempat buah hatinya.
 
Orangtua tak selalu benar karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, begitupun dengan penulis yang pernah salah kaprah, tapi keinginan untuk terus memperbarui ilmu, menjadikannya banyak belajar dan memperbaiki diri ketika berhadapan dengan anak. Berdiskusi adalah salah satu cara yang meletakkan orangtua dan anak pada posisi yang sama. Mendengarkan dan memahami pemikiran anak juga menjadi bahan penting dalam pertimbangan orangtua.
 
“Secepatnya mengajari mereka cara berdiskusi, berpikir, memilih, dan mengambil keputusan sendiri, agar mereka segera mengenali hal penting yang diperlukan.” (h. 22)

Cara komunikasi yang sering salah, juga perlu diperbaiki, karena seringkali cara anak berkomunikasi bercermin dari orangtuanya. Contoh dari pengalaman pribadi saya, saat melihat Miza marah, ternyata tak jauh berbeda seperti ketika saya marah. Salah satu penyebabnya karena balita menganggap cara ayah-ibunya-lah yang benar. Selain itu, teknik berbicara pada anak, dengan menurunkan tubuh setinggi anak dan memandang matanya, bisa membuat mereka merasa lebih dihargai dan fokus saat berkomunikasi.
 
“Jangan mematahkan pertanyaan anak ketika kita membacakan cerita, bahkan kita harus menstimulasi anak untuk bertanya. Ini merupakan cara melatih anak berpikir kritis dan analitis.” (h. 27)

Masalah Kemandirian juga dibahas dalam buku ini karena menjadi salah satu karakter yang dibutuhkan untuk bertahan dalam hidup. Termasuk membimbing anak untuk menerima kesedihan atau sesuatu di luar keinginannya. Hal ini dikenal dengan Adversity Quotient (AQ), kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Hanya saja, buku ini membahas bagian permukaannya mengenai hal tersebut dan pembaca perlu memperdalam ilmu melalui referensi buku yang digunakan penulis.
 
“Setiap manusia, tanpa terkecuali perlu merasakan lima hal dari lingkungan sekitarnya untuk dapat merasa aman dan bahagia dalam hidup, yaitu merasa dikenali, didengar, diterima, dimengerti, dan dihargai,” (h. 52) termasuk anak-anak.

Readmore → Smart Parenting with Love

Thursday, May 26, 2016

The Creative Family

Judul: The Creative Family
Penulis: Amanda Blake Soule
Penerjemah: Tutut Lestari
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-574-7
Cetak: Pertama, Mei 2013
Tebal: xxvi + 546 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 39.000 (Diskon di Toko Buku Online)



“Anak harus tahu bahwa ia adalah keajaiban, bahwa sejak awal dunia hingga akhir zaman, tidak ada dan tidak pernah ada anak lain seperti dirinya” – Pablo Casals

Bagaimana mendorong imajinasi dan menumbuhkan ikatan keluarga, adalah tagline yang pas untuk buku ini karena di dalamnya penulis tidak hanya menyodorkan kreativitas keluarga tapi juga menonjolkan efek dari aktivitas bersama tersebut. Menyenangkan membaca buku ini, sampai saya dibuat iri dengan kreativitas si ibu dan anak-anaknya, apalagi gaya tuturnya sangat bersahabat.

Buku terbagi dalam empat bab, masing-masing merangkum cara mencari inspirasi, tips-tips membangkitkan imajinasi dan saran-saran yang perlu dilakukan untuk mendukung kreativitas anak yang suka tiba-tiba bisa muncul, semisal menyediakan bahan-bahan yang sering dijadikan bahan berkreasi dan meletakkan sesuai jangkau anak. Resiko berantakan pasti ada sehingga di beberapa bagian penulis memberikan tips meminimalisirnya.

Meski mungkin tidak semua saran/teknik penulis bisa diikuti, tetap saja banyak hal yang bisa diambil dari membaca The Creative Family ini. Hampir di setiap sub bab, penulis akan memberikan contoh aktivitas yang dilakukannya bersama keluarga, juga terselip panduan membuat prakarya dengan penjelasan yang cukup detail, salah satu prakarya rajut membuat saya ingin kembali belajar merajut.

“Saat kita memberi mereka (anak) ruang dan dorongan untuk mengeksplorasi kreativitas mereka sendiri, mereka bisa menjadi seniman yang paling menginspirasi, ilmuwan yang selalu ingin tahu, dan filsuf yang paling orisinal.” (Prakata)

Pembahasan/selipan yang paling saya suka dalam buku ini adalah momen-momen penghargaan yang diberikan untuk anak mereka. Salah satu kejadian yang berkesan menurut saya dari pengalaman penulis adalah ketika sebuah gambar anaknya dikreasikan menjadi sulaman pada bantal hias keluarga. Saya jadi terbayang ekspresi wajah Miza setiap kali mendapat pujian setelah menggambar/membuat sesuatu atau saat gambarnya ditempel di tembok. Suatu bentuk penghargaan yang akan memompa kepercayaan-dirinya.

Pembahasan juga menyelipkan contoh-contoh permainan, yang tidak hanya memuat sisi kreativitas tapi juga bertujuan menghangatkan hubungan keluarga. Salah satu permainan sederhana yang direkomendasikan penulis untuk ‘mengikat’ keluarga adalah Kisah Tanpa Akhir dan permainan ini berhasil saya lakukan bersama si sulung bahkan membuat dia ketagihan untuk berimajinasi terutama dengan cerita binatang. Beberapa saran yang memungkinan dilakukan sangat ingin saya terapkan di rumah.

“… betapa indahnya jika kita semua bisa meyakini dan menerimanya, karena seni memiliki kekuatan yang luar biasa --- Kekuatan untuk mengekspresikan, kekuatan untuk menyembuhkan, kekuatan untuk berbicara, dan kekuatan untuk menghubungkan orang.” (h.78)
Readmore → The Creative Family
 

Sahabat si Cilik Template by Ipietoon Cute Blog Design